Sabtu, 14 November 2015

Islam di India

Islam di India
Peradaban Islam telah menyinari ujung-ujung dunia. Cahayanya menyebar di tiap jengkal wilayah yang pernah dimasukinya. Di antara kisah yang menarik tentang keagungan Islam dan betapa besar peradabannya adalah kisah Islam di India. Negeri dimana syiar Islam tegak kokoh dalam kurun yang lama. Masyarakat hidup dalam keimanan dan keamanan. Serta keadilan dan kebaikan.
Geografi India
Pertama-tama, kita harus mengetahui geografi India. Karena India dalam sejarah Islam berbeda dengan India yang kita kenal pada hari ini. Dalam istilah sejarah Islam, India adalah suatu wilayah yang saat ini meliputi beberapa negara. Yaitu: India, Pakistan, Bangladesh, Srilanka, dan Maladewa. Inilah wilayah India yang dimaksud dalam pembahasan kita. Wilayah yang sebelah selatannya berbatasan dengan Pegunungan Himalaya. Sebelah barat berbatasan dengan Pegunungan Hindukus dan Sulaiman, yang terletak di wilayah Afghanistan dan Iran. Di sepanjang perbatasan utara, wilayah India berbatasan dengan semenanjung Laut Arab dan Teluk Bengal.
India Pra Islam
Sebelum datangnya Islam, kemerosotan akhlak, nilai-nilai kemasyarakatan, dan keyakinan sangat jelas terlihat. Kemunduran pilar-pilar kemasyarakatan ini tampak sedari abad ke-6 masehi. Ditandai dengan banyaknya sesembahan dan Tuhan. Tersebarnya perzinahan. Nafsu syahwat diumbar tak terarah. Ketimpangan lingkungan sosial. Dan meratanya ketidak-adilan (Madza Khasara al-Alam bi Inhithath al-Muslimin oleh Abu Hasan an-Nadwi, Hal: 88).
Di masa-masa itu, begitu banyak agama dan kepercayaan di India. Yang terbesar adalah Hindu, Kemudian Budha. Di sana juga terdapat sedikit orang-orang Nasrani dan Yahudi (Tarikh al-Islam fi al-Hind oleh Abdul Mun’in Namr, Hal: 24).
Sulit untuk menentukan kapan pertama kalinya terjadi kontak antara masyarakat India dengan orang-orang Arab Islam. Hanya saja dapat diketahui bahwa kontak budaya mereka dimulai dengan adanya perniagaan. Kapal-kapal Arab singgah di banyak pelabuhan India. Bahkan sampai ke Teluk Bengal dan negeri-negeri Melayu. Termasuk Indonesia. Sehingga bisa kita temukan perkampungan Arab di wilayah-wilayah tersebut.
Mengenal Islam
Wilayah-wilayah India; India, Pakistan, Bangladesh, Srilanka, dan Maladewa merupakan komunitas terbesar agama Hindu dan Budha. Ada beberapa berita yang menyebutkan bahwa kontak dunia Islam dengan wilayah India telah terjadi sejak zaman Nabi ﷺ. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengirim surat kepada raja India, Raja Malipar. Beliau ﷺ menawarkan Islam kepadanya. Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Raja Kudunglur (Arab: كدنغلور) mengunjungi Nabi ﷺ di Madinah.
Kemudian di masa Khalifah Rasyidin, utusan-utusan Islam telah mencapai Bombay. Dan di masa Muawiyah, raja pertama dalam Islam ini pernah mengirim pasukan ke wilayah Sindh. Seiring waktu, kontak dengan wilayah India kian menemui puncaknya. Pada masa Abdul Malik bin Marwan, Muhammad bin Qasim datang ke India. Ia memerangi orang-orang India yang menyandera kaum muslimah. Mulailah wilayah-wilayah India dibebaskan. Islam pun diterima masyakarat dan tersebar di sana.
Di masa berikutnya, Umar bin Abdul Aziz menyurati beberapa raja India. Di antara mereka ada yang menerima Islam. Kemudian disempurnakan oleh Hisyam bin Abdul Malik yang berhasil menstabilkan wilayah India.
Di awal kekuasaan Daulah Abasiyah, terjadi kerusuhan di negeri Hindustan ini. Kemudian Khalifah Harun al-Rasyid mengangkat sejumlah gubernur bergantian memimpin wilayah Sind hingga wilayah India pun tunduk kepada kekhalifahan di Baghdad.
Ketika kekhalifahan mulai melemah, orang-orang India tunduk kepada orang-orang Samani. Salah satu kepercayaan yang meyakini bahwa air dan api adalah bendak suci. Hingga datang Mahmud Ghaznawi. Islam pun kembali Berjaya. Sampai-sampai raja wilayah Kasymir pun memeluk Islam melalui perantaranya.
Setelah era Dinasti Ghaznawi, India dikuasai oleh orang-orang Dinasti Saljuk. Kemudian Turkman. Setelah itu orang-orang Ghuri. Lalu berganti lagi dikuasai orang-orang Mamalik. Dinasti Mamluk berhasil menjaga India dari serangan Mongol. Setelah itu, India dikuasai oleh Dinasti Khilji yang merupakan orang-orang Turk.
Beberapa lama dikuasai pihak luar, akhirnya orang-orang India kembali memerintah di daerah mereka. Pada masa ini wilayah India terpecah menjadi enam negara. Namun Dinasti Lodi berhasil menyatukannya kembali. Ketika kekuasaan Dinasti Lodi melemah, muncullah Dinasti Mughal. Yang kemudian menjadi salah satu kerajaan Islam terbesar di abad pertengahan. Namun sayangnya, kerajaan ini pula yang menjadi penguasa muslim terakhir di wilayah India yang luas ini.
Raja Mughal yang terkuat adalah Raja Jalaluddin. Kekuasannya meliputi seluruh wilayah India, kecuali wilayah ujung selatan. Wilayah selatan ini dikuasai oleh raja-raja Bijapur dan Kalinga yang telah menerima Islam pula. Pada saat itu, muncul seorang Indian yang bernama Vijayankir (Arab: فيجايانكر). Ia berobsesi menyatukan seluruh agama yang ada di India menjadi satu aliran kepercayaan. Dari sini kita ketahui, isu pluralism agama adalah sebuah pemikiran lama yang booming kembali di abad modern ini.
Di pesisir barat India, orang-orang Portugal mulai menunjukkan ambisinya. Belanda menyimpan obsesi. Dan Perancis turut bergerak. Inggris pun merangkul mereka. terbentuklah sebuah perserikatan dagang Inggris di India. Muncullah took-toko kecil. Kemudian dijaga oleh orang-orang Inggris. Dari sini terbentuklah militer yang kemudian. Mulailah terjadi ketegangan antara pribumi, dengan penjajah Kristen Eropa.
Muncullah gerakan jihad di tanah Hindustan. Inggris pun mulai memainkan tipu muslihat dengan berusaha memecah belah kelompok-kelompok jihad. Mereka mengadakan konspirasi pemecah belah dengan menyerukan agar India lepas dan bebas dari pengaruh asing. Orang asing di sini maksudnya adalah pendatang Islam yang sudah mendarah daging dengan penduduk setempat.
Sama halnya dengan seruan saat ini, kampanye pemisahan budaya Arab dan budaya lokal begitu deras dihembuskan. Padahal dari beberapa contoh yang disebutkan tentang budaya Arab adalah Islam itu sendiri.
Akhirnya, India pun jatuh ke tangan penjajah Inggris.
Untuk membela kepentingan Islam, kaum muslimin mendirikan Hizb Rabithah al-Islamiyah (Muslim League). Dibuatlah sebuah media cetak agar suara umat Islam kian cepat tersebar. Pada perang dunia pertama, umat Islam dijanjikan kemerdekaan. Namun janji tersebut tidak ditepati. Terjadilah gejolak. Hizb Rabithah al-Islamiyah menuntut agar umat Islam dimerdekakan dan membentuk negara Pakistan. Akhirnya parlemen Inggris mengizinkan umat Islam mendirikan negara Republik Islam Pakistan.
Pada 15 Agustus 1947, Inggris menyerahkan kekuasaan secara terpisah kepada India dan Pakistan. Deklarasi kemerdekaan tersebut mengakibatkan perpindahan penduduk besar-besaran. Sekitar 6 juta pemeluk Hindu dan Sikh keluar dari Pakistan menuju India. Dan kurang lebih 8 juta umat Islam bermigrasi dari India menuju Pakistan.
Sejak saat itu, terbagi-bagilah wilayah India seperti yang kita lihat sekarang ini. India, Pakistan yang kemudian juga terpecah dan muncullah Bangladesh. Umat Islam kurang lebih berkuasa selama 5 abad di wilayah ini. Suka dan duka, kemajuan dan kemunduran, damai dan perang, silih berganti menulis sejarah perjalanan wilayah ini.
Rujukan:
– islamstory.com

Ketika Negara Islam Menyelamatkan 150.000 Orang Yahudi

Konflik memanas di Iberia. Kristen Spanyol kian menguat dengan bersatunya Kerajaan Castilla dan Aragon melalui pernikahan Ratu Castillah Isabela dengan Raja Aragon Ferdinand. Pada bulan Juli 1492, Spnyol yang baru, membuat kebijakan membantai dan mengusir orang-orang Muslim dan Yahudi di wilayah mereka. Kejadian ini merupakan bagian dari kebijakan kejam dan brutal yang dikenal dengan inquisisi.
Sultan Bayazid II
Sultan Bayazid II
Umat Islam minoritas mencoba melakukan perlawanan. Namun upaya mereka selalu menemui kegagalan. Mereka mengirim surat kepada raja-raja Islam untuk menyelamatkan hidup mereka. Raja Dinasti Hotak, Shah Asyraf Hotak, segera mengutus delegasi kepada Paus dan raja-raja Nasrani, mengingatkan bahwa orang-orang Nasrani di wilayahnya dijamin keamanannya. Apbila umat Islam di Spanyol tetap disiksa secara kejam, ia mengancam akan melakukan hal yang sama terhadap kaum Nasrani di wilyahnya. Sayangnya, upaya Raja Asyraf tidak mampu menekan Kristen Spanyol.
Muslim Spanyol juga mengirim surat kepada Khalifah Utsmani, Sultan Bayazid II. Merespon hal tersebut, Sultan Bayazid II mengirimkan angkatan lautnya dibawah pimpinan Laksamana Kemail Reis. Ia tidak mampu mengirimkan pasukan perang karena sedang menghadapi banyak pemberontakan dan perlawanan. Pemberontakan dari saudaranya Pangeran Jem. Dan serangan Nasrani di Venezia, Hungaria, dan Perancis. Belum lagi ancaman Kerajaan Syiah Shafawiyah. Di tengah kesulitan tersebut ia mengirimkan angkatan laut Utsmani untuk misi penyelamatan. Kapal laut pun dikerahkan berangkat menuju Spanyol.
Misi Kemanusiaan Menyelamatkan Orang Tertindas
Sultan Bayazid II dan pasukannya tidak hanya menyelamatkan saudara seiman saja. Pasukan Islam juga menyelamatkan orang-orang Yahudi yang terusir. Saat itu, lebih dari 150.000 orang-orang Yahudi dibawa menuju wilayah Turki Utsmani yang aman untuk mereka. Sultan pun telah mengirim surat perintah ke seluruh wilayahnya bahwa para pengungsi harus disambut dengan terbuka.
Dalam surat perintah tersebut, Sultan Bayazid II menyatakan bahwa Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada keturunan Nabi Ibrahim dan Yakub. Menjamin makanan yang layak untuk mereka. Mereka bisa datang dan menetap di Istanbul. Hidup damai, bebas melakukan perdagangan, dan memiliki rumah dan tanah sendiri.
Gambran penyambutan pengungsi Yahudi oleh Sultan Utsmani
Gambran penyambutan pengungsi Yahudi oleh Sultan Utsmani, setibanya mereka dari Spanyol
Sultan Bayazid mengirimkan pesan kepada seluruh gubernurnya di wilayah Eropa, untuk menyambut mereka dengan tangan terbuka. Ia mengancam akan memberikan sangsi bagi gubernur yang menolak pengungsi Yahudi.
Daftar Pustaka:
– ash-Shalabi, Ali bin Muhammad. 2014. ad-Daulah al-Utsmaniyah Awamil an-Nuhudh wa Asbabi as-Suquth, Terj. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
– http://ilmfeed.com/when-the-islamic-state-saved-150000-jews/
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Tentara Terakhir Yang Menjadi Benteng Masjid al-Aqsha

http://cdn.kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2015/10/Tentara-Terakhir-Yang-Menjadi-Benteng-Masjid-al-Aqsha.jpgSelama empat abad, Palestina berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani (Ottoman). Sampai akhirnya Inggris mengambil kendali atas wilayah tersebut. Ottoman pun telah melakukan segala upaya, berjuang keras mempertahankan Jerusalem dari serangan Inggris, namun hal itu tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Hingga diperkirakan 25.000 tentara mereka tewas. Akhirnya, mereka tidak punya pilihan selain menyerah. Gubernur Ottoman menulis dekrit berikut:
Photo credit: Phil McKenzie
Due to the severity of the siege of the city and the suffering that this peaceful country has endured from your heavy guns; and for fear that these deadly bombs will hit the holy places, we are forced to hand over to you the city.”
Signed Izzat the Mutasarrif of Jerusalem
Karena gencarnya pengepungan dan penderitaan yang dipikul negeri ini disebabkan senjata berat Anda; dan kekhawatiran akan bom-bom mematikan yang bisa meluluh-lantakkan tempat-tempat suci, kami terpaksa menyerahkan kota ini kepada Anda.
Yang menandatangani Izzat yang Mutasarrif Yerusalem.
Pada 11 Desember 1917, dengan berjalan kaki, Jenderal Inggris Edmund Allenby memasuki Kota Jerusalem. Kota suci itu akan berada di bawah mandat Inggris dan setahun kemudian akan jatuh di bawah pendudukan Israel. Sebuah negara Yahudi yang baru saja terbentuk.
Ottoman Army 3
















Berikut adalah beberapa foto dari tentara Ottoman di Masjid Al Aqsa sebelum Inggris mengambil kendali atas kota suci tersebut:
Ottoman Army 4
Ottoman Army 1
Ottoman Army 5
Foto di bawah ini menjelaskan kepada kita mana yang dimaksud dengan Masjid al-Aqsha:
Ottoman Army 6

Sumber:
– http://ilmfeed.com/the-last-muslim-army-to-defend-masjid-al-aqsa/
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)